Home

  • Rasa Bersama


    Pantulan Latihan Joget Amerta (1)

    Seteleh mengikuti beberapa latihan Joget Amerta, ada sesuatu yang tumbuh dalam diri saya. Saya memeriksanya berulang-ulang. Mengamatinya. Merenungkan kembali. Hingga kemudian tumbuh sejumlah pemahaman bahwa semua orang atau semua mahluk adalah something. Sesuatu yang memiliki peran dan fungsi bagi keberlangsungan dunia, sekecil atau sebesar apa pun. Ini titik pijak pertama. Menerima keberadaan sesuatu di dalam dan di luar diri, dan kesemuanya penting. Sama halnya di dalam teater, pada titik tertentu tidak ada peran besar atau peran kecil, peran utama atau pelengkap, semua memiliki tugas dan perannya masing-masing, sama-sama penting bagi keberlangsungan peristiwa di panggung. Demikian kesadaran yang mencoba dibangun melalui latihan Joget Amerta.

    Reading dan tuning adalah salah satu konsep latihan joget amerta. Dari latihan ini sejumlah hal seperti tersingkap, terutama dalam upaya menumbuhkan rasa bersama, berada dalam kebersamaan, atau saling respek. Saya pikir ini cukup fundamental dalam konteks membangun relasi atau keterhubungan dengan alam atau sesama. Lalu saya mencoba menumbuhkan respek pada banyak hal.  Sesuatu di luar diri saya bukan melulu obyek,saya bukan pusat. Pusat ada di mana-mana. Tidak ada yang superior atau inferior. Dan relasi yang mencoba dibangun adalah antar subyek. Alam atau benda memantulkan sesuatu, lalu sesuatu di dalam diri saya terstimulus untuk mereaksinya dan demikian sebaliknya.  

    Hasil dari reading atau tuning menurut saya adalah keterbukaan dan kerendah-hatian, yang selanjutnya mempengaruhi penghargaan (respek) terhadap sesuatu di luar diri saya; orang lain, benda-benda, atmosfir, atau apa pun. Semua saling menyimak, saling memberi stimulus, saling mereaksi.

    Di dalam teater, setiap orang yang terlibat pada suatu produksi dikehendaki demikian. Bagaimana kita membangun relasi dengan teks (naskah), sutradara, benda-benda yang hadir di panggung, ruang, pemain lain, cahaya, musik, dan lain sebagainya. Hasil dari relasi berbagai unsur tersebut kemudian mencoba ditubuhkan menjadi laku panggung (akting). Saya pikir dalam skala yang lebih luas, seperti ekosistem teater atau seni atau kebudayaan, sikap demikian yang perlu ditumbuhkembangkan. Kita rendah hati bukan hanya pada teks, tokoh yang kita mainkan, tetapi pada semuanya. Semacam perluasan kesadaran, memindahkan kesadaran panggung ke dalam proses kehidupan kultural kita. Setiap orang atau kelompok respek pada sesuatu yang dianggap sebagai yang lain. Tidak ada yang perlu superior atau inferior. Semua punya tugas dan fungsinya masing-masing dalam ekosistem teater atau kesenian atau kebudayaan.  Seandainya keterbukaan, kepedulian, atau rasa bersama ini terus kita tumbuhkan, kita rawat, barangkali ekosistem teater atau seni di Lampung atau Indonesia, kemungkinan bisa menjadi lebih baik.

  • BUNIAN EFFECT

    Setiap pagi ada setangkai mawar dan apel merah di meja dekat ranjang tidurnya. Harum mawar akan merebak ke mana-mana sepanjang hari, sepanjang jalan yang ia lewati saat menjajakan dagangan. Sementara apel itu membuatnya tak merasa lapar meski tak sebutir nasi masuk ke perutnya. Ia ceritakan itu kepada semua orang, tentang Bunian yang baik hati. Dan seperti yang kau duga, tak satu pun dari mereka yang percaya. Serupa kabar buruk terhampar selanjutnya, semua mawar dan apel di kota itu tiba-tiba menghilang.

    Semua orang menuduh gadis bau kencur itulah penyebabnya. Sejumlah pedagang buah tak henti menghamburkan sumpah serapah, sementara sebagian yang lain penasaran, apakah gadis itu masih akan berkisah tentang pagi, sebuah apel, dan setangkai mawar?

    Pada hari pertama kota itu tanpa mawar dan apel, gadis berambut jagung yang biasanya mondar-mandir di pasar Pulung untuk menjajakan sekubal bikinan neneknya itu tiba-tiba ikut menghilang. Orang-orang percaya bahwa ia dibawa Bunian, disembunyikan di Lasengok untuk waktu yang tak dapat diketahui siapapun kecuali oleh si hantu sendiri. Mereka tentu enggan memasuki hutan tempat Bunian bermukim, selain takut tersesat,  tak seorang pun percaya hantu punya perangai yang baik.

    Kesepakatan telah dibuat, kebaikan Bunian adalah omong kosong bagi mereka, dan semua orang mencoba mempertahankan argumen ini, meski pada titik tertentu harus melakukan tindakan paling konyol dalam hidup mereka. Mana ada hantu sebaik itu, pikir warga yang paling pandir.  Bocah terkutuk, dia pasti bukan keturunan asli warga kota ini, umpat warga dungu yang lain. Sikap tersebut tidak sepenuhnya salah, sebab faktanya, aforestasi belum dilaksanakan, dan hutan sebagaimana yang dimaksud, sesungguhnya baru ada dalam kepala seorang lelaki tua yang sesekali ditemui warga duduk diteras surau yang ada di pinggir sungai way kiri. Sosok misterius yang gemar mengisahkan dongeng-dongeng mencengangkan dari masa lalu yang jauh, dan terlebih pihak pemerintah dan warga meski telah bertahun-tahun menggelar negosiasi, belum juga menemukan titik temu tentang kompensasi dan royalti. Hingga program forestasi tetap sebagai ilusi, serupa igauan orang-orang yang tak punya lahan bercocok tanam. Warga cemas anak-anak mereka mengalami nasib yang sama, hilang disembunyikan Bunian.

    Kecemasan berlanjut pada hari ke tujuh, hari ketika mereka menyadari gadis berambut jagung yang biasanya mondar-mandir di sekitar pasar Pulung itu kini telah kembali. Ia tak menjajakan sekubal lagi, sepanjang hari memandang langit seolah sedang menunggu Tuhan berbaik hati menjatuhkan setangkai mawar dan sebuah apel untuknya. Warga yang enggan peduli dengan situasi gadis kecil yang sejak lahir ditakdirkan yatim piatu itu meresponnya dengan tatapan dingin, cuek, dan syarat penghinaan. Mayoritas warga, meski rasa cemas mereka sedikit menurun, tapi masih bertanya-tanya kemana saja bocah sialan itu selama tujuh hari kemarin. Belum hilang keterkejutan lantaran munculnya gadis berambut jagung yang gemar berceracau tentang Bunian, warga dibikin heboh atau lebih tepatnya mengalami mental sock lantaran ratusan hektar ladang singkong dan karet tiba-tiba berganti berbagai jenis pohon yang tak mereka kenali. Sejak itu benih-benih konflik tumbuh subur di setiap jengkal kota yang kini seperti enggan menyebut namanya sendiri. Dan meski pertikaian tak jarang berakhir dengan kematian, mereka tetap tak jera untuk terus menyalakan api permusuhan di segenap penjuru kota, kepada siapa pun, di mana pun. Kota itu menjadi sangat riuh dengan intimidasi, persengkokolan jahat, sumpah serapah, fitnah, pembunuhan dan penculikan tanpa alasan yang jelas, dan lain sebagainya.

    Lalu tiba hari ke empat puluh, sesuatu yang lebih menakjubkan terjadi. Beberapa orang yang selamat dari huru-hura seperti kehilangan ingatan. Mereka harus kembali menamai benda-benda di sekitarnya, berdialog dengan bahasa isyarat yang tak selalu dapat dipahami satu dengan lainnya, serupa kehidupan ketika bumi ini baru diciptakan.

  • Kota esok hari

    Ia menduga ia lebih hidup dibanding yang lain. Meninggalkan harum aroma kopi, gerutu birokrat yang selalu merasa kurang setoran,  keluh kesah warga yang saban hari harus hilir mudik melewati jalan berlubang  berbatu, serombongan bangau yang kerap membuat komposisi ganjil di langit Lasengok, derau angin yang sesekali mengobang-ambingkan hamparan pohon singkong yang malas, suara batuk pohon-pohon karet yang terlalu ringkih untuk disadap, hiruk pikuk pasar Panaragan atau Pulung yang mengelak dari identifikasi historis, atau ceracau kaum-kaum yang sibuk memuja tuhan-tuhan—yang tak lain adalah  hasrat tersembunyi dari diri mereka sendiri.

    Ia mengatakan kota itu selalu asing bagi yang lain. Sebuah kota tanpa rambu jalan, rumah ibadah, kubah, atau menara. Seseorang telah memahat kitab dari negara tetangga yang jauh  di setiap sisi dinding rumah, jembatan, hingga pusat perbelanjaan. Menyusun ulang penomoran yang sudah usang, memajang seribu patung berbaris dari gerbang tol hingga pusat kota, membangun undakan panjang spiral yang di ujungnya bercecabang ke mana-mana. Sementara di jantung kota, jika kau beruntung, ada sebuah lubang besar tak kasat mata, yang jika kau cukup berani melanjutkan perjalanan akan sampai ke sebuah ruang, di mana sejumlah bangunan asimetris yang tak tercatat di buku harian siapa pun, berdiri rapi di kiri dan kanan jalan. Bangunan-bangunan yang tak bisa dikatakan berbeda atau seragam satu dengan lainnya, yang setiap orang percaya ketika memasukinya seolah berada di labirin-labirin yang sulit dipecahkan, labirin-labirin yang tidak menawarkan reward surga atau neraka, tapi gelak tawa yang tiada habisnya atau tangis haru yang tak berkesudahan akibat menyadari telah mengimani kegilaan pada kedunguan selepas kelahiran.

  • Bayang-bayang

    Usai meneguk kopi, seorang pengelana beringsut dari kursi, menepis rombongan rasa hampa yang tiba-tiba mengepungnya sore itu. Angin kemarau di Tubaba mengantar bau kubangan kerbau, karet, sungai, rawa, lekukan-lekukan tanah, juga lenguh dan keringat penyadap karet yang sepanjang hidupnya menduga takdir sudah selesai dituliskan dan tak ada perdebatan tentang itu. Sejenak ia berdiri di pinggir jalan, sedikit bimbang, apakah ia hendak bergerak ke masa lalu atau masa depan. Kebimbangan itu bertahan cukup lama, dan sesuatu yang tidak ia inginkan hadir, terhampar begitu saja, bayangannya sendiri, yang kembali gagal ia kenali.  Si Pengelana gugup, melangkah, bukan ke masalalu atau masa depan, tetapi bergerak ke samping, memutar, dan kembali ke tempatnya semula pada kesempatan selanjutnya. 

    Recoqnized.

    Si Pengelana percaya tindakan yang dilakukannya tidak lebih sebagai pelanturan atau pengabaian atas keputusasaan. Ia menemukan bahwa keadaan ini, bertolak belakang dengan persepsi mayoritas, hidup tampak sebagai akumulasi semaunya dari suatu kedunguan yang terkadang dicatat sebagai keajaiban. Kegilaan pada kedunguan. Kehancuran tak berujung, tanpa bentuk, sindrom inferior, korupsi yang menyebar terlalu jauh untuk disembuhkan,  dan bahwa kedaulatan atas hasrat menguasai telah membuat kita mewarisi sistem penghancuran diri sendiri secara turun-temurun. Namun, ada sekelebat gagasan berwana hijau kusam yang melompat dari kepalanya. Sesuatu yang sejenak melayang di udara, bergulingan di jalan, memantul-mantul dari satu tiang listrik ke tiang listrik lainnya, melompati jendela, dan celakanya gagal ia tangkap kembali, sesuatu, serupa kode khusus berkaitan dengan tembok dan menara yang ditakdirkan runtuh oleh pola-pola halus dari waktu.

  • holiday

    Ia meninggalkan kota dalam kepalanya. Membuka pintu, melihat jalanan, melihat orang-orang sibuk berakhir pekan. Jalan-jalan ramai. Ia memejamkan mata, seketika kota dalam kepalanya memanggil dan berharap kisah dilanjutkan, tak peduli akhirnya bakal bahagia atau sebaliknya. Ia menarik nafas, tetap berdiri di pintu, melihat studio keramik Tanoh Nughik. Tidak ada sesuatu yang menurutnya  sungguh-sungguh terjadi. Tapi sesuatu terjadi.  Perbedaaan antara yang dilihat, yang dialami tubuh, yang dirasakan, dan yang ia bayangkan, bertumbukan.

    Ia bisa saja melepaskan semua itu. Melepas ketegangan dari sesuatu yang ia anggap terpahami atau belum terpahami, antara rasa memiliki dan tidak memiliki, atau sejumlah citra yang secara sengaja atau tidak sengaja terus diproduksi, dan dilekatkan pada proses identifikasi yang banal dan serba permukaan.  Temporalitas yang kadang dipercayai abadi, lalu diimani habis-habisan oleh sejumlah orang yang enggan memeriksa kembali definisi yang terlanjur mendekam dalam kepala mereka. Dan ia kembali takut pada sesuatu, ia menyebutnya kehilangan. Meski ia sendiri belum sungguh-sungguh tahu dari mana asal rasa takut itu, mungkin sejak tumbuh kehendak memiliki.

  • Dialektika Joget Amerta

    Apa sesungguhnya definisi dan tujuan Joget Amerta? Sampai sekarang saya masih terus berupaya memahaminya. Sebab beliau memang belum pernah menyampaikan secara langsung kepada saya, sehingga, hingga sekarang saya hanya mencoba menerka-nerka. Namanya menerka bisa tepat, kurang tepat, salah, atau bahkan bertolak belakang. Namun, bagi saya menjadi satu hal menarik, sebab selalu tumbuh dialog dalam diri saya, semacam ruang untuk melakukan refleksi, menemunkan perspektif yang segar, atau apa pun.

    Selain latihan gerak bebas di Sukuh dan Borobudur, Mbah Prapto juga meminta saya memperhatikan berbagai kegiatan atau aktifitas seni, baik di Jogja, Solo, maupun tempat lain. Lantas bertanya, pelajaran apa yang saya peroleh dari semua itu.   Saya sempat dilibatkan pada acara Seni Ritual di Pendopo Ageng TBJT,  Ritual membersihkan keris dan penari di Songgoriti Kota Batu Malang, Goa Selomangleng Gresik, dan lain sebagainya.

    Lalu pada satu kesempatan, Mbah Prapto berkenan hadir ke Lampung. Saya menemani Mbah Prapto ke Tubaba, Batu Brak-Lampung Barat, dan Lampung Selatan. Dari kunjungan ini kemudian lahir Srawung Seni Sawah di Lampung Selatan, Celebrating Megalithic Art @Sistersites di Situs Megalitik Batu Brak Lampung Barat, yang juga dilaksanakan secara serentak di Avebury, United Kingdom (UK) – Watu Kandang Matesih, Jawa, – Lindeskov, Denmark – Batu Pake Gojeng, Sulawesi – Tejakula, Bali – dan Worldwide pada tanggal 5 Juli 2019, selanjutnya di Kabupaten Tulang Bawang Barat, lahir kegiatan budaya bertajuk Sharing Time: Megalithic Millennium Art pada 22-26 Januari 2020. Kegiatan ini mendatangkan sejumlah seniman, akademisi, arkeolog, dan peneliti, baik dari Indonesia maupun mancanegara.

    Saya kembali bertanya, apa itu gerak? Gerak yang seperti apa yang sesungguhnya dimaksudkan oleh Mbah Prapto?

    ***

  • Dewa Ruci

    Dewa Ruci dalam cerita wayang adalah nama seorang dewa kerdi yang dijumpai Bima atau Werkudara dalam sebuah perjalanan mencari air kehidupan. Nama Dewa Ruci juga merupakan lakon atau judul kisah wayang tentang dewa tersebut, yang berisi ajaran moral dan filsafat hidup orang Jawa. Lakon Dewa Ruci berkisah tentang kepatuhan murid kepada guru, kemandirian bertindak, dan perjuangan menemukan jati diri. Menurut filsafat Jawa, pengenalan jati diri akan membawa seseorang mengenal asal-usul diri sebagai ciptaan dari Tuhan, yang selanjutnya mendorong manusia untuk bertindak selaras dengan kehendak Tuhan, bahkan menyatu dengan Tuhan, yang disebut sebagai Manunggaling Kawula Gusti (bersatunya hamba-Gusti). Sebagaimana kisah Dewa Ruci dalam jagat pewayangan, bahwa Tuhan telah menubuh dalam diri, atau ada dalam diri setiap orang, maka selanjutnya tergantung bagaimana manusia menemukan jembatan untuk berkomunikasi denganNya. Bila manusia zaman dulu lewat tumpukan batu atau candi, maka Mbah Prapto lewat tubuh dan gerak.

  • Kisah Sudamala

    Ada begitu banyak narasi yang disampaikan oleh Mbah Prapto selama latihan, atau saat ngobrol santai dengan beliau. Misalnya cerita Sudamala memiliki nilai-nilai filosofis yang bisa dijadikan pelajaran dan inspirasi kehidupan sekarang dan yang akan datang.Makna filosofis yang terkandung dari cerita Sudamala antara lain tentang hakekat kehidupan di dunia yang harus berdasarkan apa yang dinamakan dengan kebenaran. Cerita Sudamala adalah bahwa dalam diri manusia bermukim dua kekuatan positif (kebenaran) dan negatif (angkara) yang berlawanan dan berusaha saling mendominasi.

    Untuk menjauhkan dari kekuatan negatif itu manusia haruslah belajar dan mencari ilmu rahasia kehidupan dunia melalui kearifan dan kebajikan. Karena pada dasarnya semua perilaku buruk akan mendapatkan akibatnya, biarpun sekecil apapun. Ajaran ini tampak pada akibat yang diterima oleh Uma dan Citranggada-Citrasena yang harus kehilangan status tertinggi di kahyangan dan menjadi raksasa karena perbuatannya. Raksasa adalah status paling rendah/hina yang ditampikan dalam bentuk lahiriah maupun batiniah yang memiliki wujud sangat buruk. Sementara akibat atau balasan yang mereka terima ditampilkan melalui kutukan Dewa Siwa, ‘Hyang Guru’ sebagai penguasa dunia, yang dapat diidentikkan dengan pengejawantahan Tuhan semesta alam.    

    Dalam tradisi Jawa dijumpai upacara ruwatan yang dilakukan kepada seseorang yang dianggap tertimpa petaka atau mala, usaha-usaha seperti ini merupakan upaya pembelajaran untuk mengingatkan manusia dalam usaha untuk senantiasa membersihkan diri dan menyucikan diri dengan menjaga perilaku terpuji. Tokoh Sudamala adalah simbol peruwatan atau penyucian yang mempunyai kemampuan membebaskan manusia dari dosa, mala/kutukan, dan malapetaka.

  • Wayang Budha dan Sutasoma


    Wayang Budha merupakan seni pertunjukan yang memadukan antara laku, mantra, dan meditasi vipassana. Sebuah pertujukan seni yang tidak hanya berfungsi atau diniatkan sebagai sebuah tontonan saja, tetapi lebih dari itu, yaitu menyampaikan pesan moral kepada penonton, dan sebentuk tawaran melakukan refleksi bersama.

    Menurut Mbah Prapto gerak meditasi vipassana, secara prinsip adalah menyadari apa pun yang kita lakukan. Kehidupan sehari-hari di rumah bisa dijadikan latihan meditasi, apabila dibarengi kesadaran pada semua aktifitas tersebut. Sikap seperti itu lah yang melambari pertunjukan Wayang Budha, sehingga bisa dirasakan nilai spiritual dan tuntunan. Jadi ada nilai di situ. Dalam tari ada makna, dalam arti di sini ada simbol, misalnya simbol mudra di Candi Borobudur, Swarta Mudra, itu yang ada maknanya. Tetapi bisa juga makna itu terpancar di dalam emosi, rasa, gerak tubuh, kemauan untuk disampaikan kepada penghayat, penonton. Wayang Budha mencoba menterjemahkan doa, mantra dan paritta di dalam menari.

    Seperti saat mementaskan Sutasoma, ada salah satu adegan ketika Sutasoma dalam perjalanan mencari pencerahan kemudian bertemu dengan Dewi Pradnyadari, ibu pertiwi. Dalam adegan itu ada doa, gerak meditasi, lalu ketemu ular, naga, gajah dan macan. Di situ ada adegan penyerahan total. Ini salah satu makna Bodhisattva dalam konsep Mahayana, yaitu Bodhisattva melakukan mahapatidana (menyerahkan jiwa raganya).

    Ini memang bagaimana menyandingkan dunia ritual, dunia laku, dunia samadhi dengan mantra paritta. Itu diletakkan dalam konteks seni pertunjukan. Ada adegan heningciptoning samadhi (meditasi hening), di sini bukan hanya memperlihatkan samadhi saja. Ada pembacaan sutra sambil mempraktikkan gerak. Aum ram.. Aum. Jadi ada laku di situ. Bukan hanya tontonan, Sutasoma adalah Siwa Buddha.

    Konsep Wayang Buddha menurut Mbah Prapto adalah manifestasi dari seseorang yang mau meruwat dirinya sendiri, atau bersama-sama yang dihadapkan pada konteks dunia nyata. Jika kita latihan vipassana, selalu dalam ruangan tertentu. Kalau kita keluar dari ruangan itu, katakanlah candi atau Vhara, atau keluar  dan terjun ke masyarakat, belum tentu bisa mempraktikkan dan mempertahankan sikap Vipasana. Jadi manusia biasa lagi. Jadi ide awalnya bagaimana sebenarnya kita latihan dalam kehidupan sehari-hari, kalau Jawanya topo ngerame.

  • Abjad Jawa versi Mbah Prapto

    Pada tahun 1991, di Taman Budaya Jawa Tengah, Suprapto Suryodarmo merasakan tata nilai filosofis yang terkandung di dalam abjad Jawa dengan susunan aksara HaNaCaRaKa perlu diruwat menjadi BaThaRa SaDa sebagai berikut:

    Susunan lama:

    Ha Na Ca Ra Ka Da Ta Sa Wa La

    Pa Dha Ja Ya Nya Ma Ga Ba Tha Nga

    Artinya:
    Ada dua utusan saling berselisih pendapat sebab kesetiaan pada pimpinan,
    dua-duanya sama-sama sakti dan perselisihan tersebut merupakan jalan yang membawa mereka sama-sama binasa.

    Susunan Mbah Prapto

    Ba Tha Ra Sa Da Pa Dha Ja Ya

    Nga Ca Wa Ha Na Ma Ga Ka La Nya Ta

    artinya: Manusia melalui bersujud dan bersemadi terhadap Tuhan Yang Maha Esa akan punya sikap hidup sama-sama jaya melalui bercermin pada kenyataan ruang, jalan (hidup), dan waktu.